Tentang Kami

Kebutuhan akan pemenuhan hunian kami baca sebagai peluang bisnis properti. Kami menyediakan perumahan dengan unit rumah dan ruko dengan skema Inhouse yang lebih mudah dibandingkan KPR. Namun, tetap melalui proses verifikasi yang akurat. 

Publikasi BPS tahun 2018 menyebutkan bahwa jumlah rumah tanggal di Jawa Timur mencapai 10,9 juta kepala keluarga (KK). Sebanyak 87% di antara jumlah tersebut merupakan rumah tangga yang telah memiliki hunian sendiri (Pemprov Jatim 2018). Sehingga, dapat disimpulkan bahwa terdapat 13% atau 1,4 juta rumah tangga tidak memiliki hunian.

Jika angka tersebut ditarik ke skala Malang Raya, yang mana jumlah penduduknya mencakup 9,2% dari seluruh penduduk di Jawa Timur (BPS Jatim, 2018), maka dapat diasumsikan bahwa terdapat 130 ribu KK di Malang Raya yang tidak memiliki hunian sendiri. Dengan kata lain, 130 ribu KK tersebut akan menjadi potensi pasar bagi industri bisnis properti di Malang Raya.

Kendati jumlah itu terbilang banyak, kami menyadari bahwa tidak semua penduduk / KK yang tak memiliki hunian memiliki daya beli, atau minimal rencana, untuk membeli rumah. Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi masyarakat dalam melakukan pembelian properti: daya beli masyarakat, inflasi, UMR/UMK, serta daya dukung masyarakat.

Pemerintah telah berusaha menjembatani kebutuhan pemenuhan rumah bagi masyarakat dengan menyediakan skema Kredit Perumahan Rakyat (KPR). Namun, dalam pelaksanaannya skema pembayaran KPR mengalami sejumlah kendala yang menyebabkan tidak semua kelompok masyarakat mampu untuk menikmati layanan tersebut.

Dikutip Tirto.id, Perumnas menyebut bahwa terdapat 46% pengajuan KPR yang ditolak oleh bank. Sebanyak 70% di antara kelompok yang ditolak merupakan penduduk di bawah usia 35 tahun atau kelompok generasi milenial. Dengan kata lain, dapat diketahui bahwa 46 dari 100 orang yang memiliki keinginan membeli rumah, belum dapat terfasilitasi KPR dan 32 orang di antaranya adalah milenial.

Untuk Tipe Besar di Grand Petruk Palace Project Pakis dan Jabung